Showing posts with label Marketing. Show all posts
Showing posts with label Marketing. Show all posts

Friday, January 14, 2011

Pengguna Facebook Indonesia 34 juta


Pengguna Facebook asal Indonesia rupanya terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Dalam catatan firma strategi marketingCandytech baru-baru ini, pengguna Facebook asal Indonesia hampir mencapai 34 juta, tepatnya 33.920.020 anggota.

Melalui statistik portal Socialbakers (sebelumnya Facebakers), Candytech mencatat pengguna aktif bulanan Facebook telah mencapai 596 juta anggota.

Co-founder Candytech, Jan Rezab, mengatakan bahwa informasi agregat ini diperoleh dari alat (tool) iklan di Facebook. "Jika Anda mencoba membuat iklan melalui Facebook Advertising, Anda dapat memilih target pengguna menurut lokasi," kata dia seperti dikutip TechCrunch, Jumat 15 Januari 2011.
Melalui alat itu, Facebook akan menunjukkan berapa banyak anggotanya di lokasi tersebut.  Menurut Rezab, melalui metode itu pengguna Facebook di AS telah mencapai 146 juta anggota.

Sebelumnya, menurut comScore, Facebook telah menjadi website terbesar ketiga di dunia. Jejaring sosial ini diperkirakan bisa menggaet 648 juta pengunjung (unique visitors) dari seluruh dunia pada November 2010.

Socialbakers juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah menyokong pertumbuhan Facebook yang lumayan besar dalam enam bulan terakhir. Sepanjang enam bulan itu, Amerika Serikat mencatat pertumbuhan lebih dari 20,7 juta pengguna baru, India 8,3 juta pengguna baru, Indonesia lebih dari 8 juta pengguna baru, Filipina 6,2 juta pengguna baru, dan Meksiko 5,8 juta pengguna baru.

Friday, December 17, 2010

Consumer trends for 2011


So what are the big consumer trends to watch out for next year? The trends site, trendwatching.com,  has some interesting tips about what we can expect. It’s a consultancy based in London and Amsterdam, and it’s sufficiently networked to provide some good insights.
It tells us that social networking will continue to shape our activities and set us off in new directions. According to the consultants, we can expect more group buying and GPS-driven deals, more status symbols that will define who we are, more consumers broadcasting, compiling, commenting, sharing and recommending content, products, purchases, and experiences to both their friends and wider audiences. 

They will offer unsolicited opinions to their online friends about places they visited, restaurants they ate at or products they purchased. In 2011, everyone’s going to be a critic. Also we can expect more status symbols, like luxury goods, shaping our buying patterns. We all want to be perceived as special.
And it predicts that more people will abandon the idea of buying. They will embrace the idea of owner-lessness and they will start to rent and share products and services instead. Better for the wallet, better for the environment.
The interesting part about their insights is that they offer examples of companies that are already moving in these direction. In other words, it’s a trend now taking shape and we are being told to watch this space.
The Economist says status seeking is becoming more common and that is likely to shape consumer behaviour next year. Everyone wants to be noticed. But it reminds us of other forces that will shape our world next year.
“In the long run, other trends may shape markets more. The rich world is rapidly ageing. People over 50 will account for two-thirds of all growth in consumer spending in France over the next two decades. Emerging markets are starting to look like America in the 1950s: people are obsessed with acquiring their first fridges and cars. The recession is forcing Western consumers to pay more attention to prices than they used to. But people, like peacocks, will never tire of displaying to friends and potential mates just how wonderful they are. Firms whose offerings scream “status” will never want for customers.”
Market research giant Mintel predicts massive behavioural changes flowing from the global financial crisis. Things to watch out for include consumers’ increasing unease about the recovery. People are expected to spend less and save more which is bad news for retailers. At the same time, it says stores are likely to become more creative in the way they lure back customers. Stores are more likely to become venues for advice and demonstrations, not just a shop.  We can also expect to see more life-long learning in the workplace, corporate sponsored degrees and cost-constrained companies investing in employees through education and training, rather than salary and benefits. Mintel also says we can expect to see more marketing to women, especially in sectors such as automobiles and sports, and more focus on health, beauty, vitality, energy and longevity in the marketing of food and drink.
Mintel predicts that 2011 will see a growing interest in "grow your own”. While this mainly translates into opportunities for garden centres, at the supermarket level this may mean catering to small gestures towards self-sufficiency, such as stocking herbs for window boxes and for roof top gardens.
What consumer trends are you expecting in 2011 ? What are the signs ahead? Do you see any big changes for next year ?  

Source : The Sidney Morning Herald

Wednesday, December 8, 2010

8 Langkah Ciptakan Pelanggan Setia


Pelanggan adalah raja. Ujar-ujar tersebut tidak salah. Karena karena merekalah usaha pebisnis bisa terus hidup dan berjalan. Maka dari itu, ada baiknya para pebisnis mengetahui apa yang penting dan diinginkan oleh para pelanggan. Berikut paparan Cyltamia Irawan, penulis buku Secangkir Kopi untuk Sahabat Customer dan CEO lembaga konsultan Lentera mengenai 8 hal yang diinginkan pelanggan.

1. Product
Apa yang akan Anda jual? Produk atau jasa apa? Apakah hal tersebut memiliki keunikan? Apa bedanya dengan produk pesaing? Jika produk Anda sama saja dengan produk yang sudah ada dan tidak ada keistimewaan, orang sulit untuk mengenal Anda atau mau pindah dari tempat sebelumnya.

2. Price
Berapa harga yang ditawarkan? Ketahuilah, pelanggan pasti akan mencari harga yang lebih murah jika pelayanan, kualitas, dan produk yang ditawarkan sama saja. "Perbedaan harga itu penting. Jika Anda menjual produk seharga Rp 10.000 dan pesaing menjual dengan harga Rp 9.999, pasti akan berpengaruh. Tetapi jangan lalu jadi membiarkan terjadi persaingan harga terus menerus," jelas perempuan yang sering dipanggil dengan nama Tami ini di acara Beautifying Indonesia, Martha Tilaar Group beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center. 
3. Place
Dimana dan channel apa yang digunakan? Lokasi strategis dan kemudahan akses akan menjadi hal penting dan menyenangkan bagi pelanggan.

4. Promotion
Ketahui apa yang kira-kira akan membuat pelanggan bergairah untuk membeli barang Anda? Gimmick promosi akan menjadi hal yang menyenangkan bagi pelanggan. Pelanggan tentu akan menghitung value yang bisa ia dapatkan dari harga yang ia keluarkan.

5. Process
Seperti apa pelayanan Anda? Misal, jika Anda pemilik salon yang menyediakan pelayanan creambath yang urutan umumnya sudah jelas, tentu pelanggan yang datang ke tempat Anda juga mengharapkan proses pelayanan yang jelas dan memuaskan, kan? Pelanggan pasti kesal jika ternyata urutannya berantakan dan malah bikin pusing.

6. People
Siapa yang akan mengurus saya sebagai pelanggan? Bayangkan diri Anda sebagai pelanggan di sebuah salon. Tidakkah Anda akan mengharap bahwa orang yang mengurus Anda adalah orang yang kompeten, mengetahui apa yang dilakukannya, ramah, dan mengutamakan kenyamanan Anda? Sama seperti itu pula pelanggan lain mengharapkan pelayanan yang akan ia dapatkan .

7. Pace
Waktu adalah hal yang penting. Apalagi saat seperti sekarang ini. Pelanggan butuh pelayanan yang cepat. Siapa yang mau menunggu lama untuk dilayani? Penuhi kebutuhan pelanggan dengan waktu yang singkat.

8. Proof
"Pelanggan adalah iklan berjalan!" ujar Tami. Tak percaya? Coba ingat-ingat, jika Anda pernah mengalami sebuah pengalaman pelayanan atau produk yang menyenangkan dan baik, tidakkah Anda akan merekomendasikan kepada orang lain? Pelanggan butuh bukti. Saat mereka terpuaskan, niscaya ia akan bawa orang lain ke tempat itu.


Wednesday, December 1, 2010

Industri Telekomunikasi Diprediksi Tumbuh 12,5% Tahun 2011


Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) memiliki peran yang signifikan dalam membantu mempercepat akselerasi bisnis di berbagai sektor industri.
 

Salah satu teknologi yang akan menjadi trend di tahun 2011 adalah Cloud Computing.




 Cloud Computing merupakan teknologi yang memungkinkan sharing kapasitas server dan storage, software, platform secara multi-tenant dan on-demand melalui  jaringan privat dan internet.
Menurut Bambang Priantono, Direktur Operasi PT Lintasarta menyatakan Cloud Computing memberikan benefit bagi perusahaan berupa cost efficiency, fleksibilitas, virtualisasi, otomasi, kemudahan akses, service management dan lain-lain. 

Hal itu dikatakan Bambang pada acara  seminar bertajuk "Business Strategy Conference : Outlook and Trend 2011" bertempat di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Business Strategy Conference menampilkan tema Economic Outlook 2011, Indonesian Business Trend 2011 dan Trend ICT 2011: Cloud Computing

Dalam keterangannya, pengamat Ekonomi, Anggito Abimanyu, mengungkapkan pemulihan perekonomian dunia 2011 akan terjadi meskipun dengan situasi ketidakseimbangan global dan mendorong perekonomian Indonesia terus bertumbuh.

Anggito juga menambahkan di tahun 2010 terlihat kenaikan investasi riil dari impor barang modal dan kenaikan pertumbuhan kredit serta kepercayaan pelaku ekonomi.  

Dengan kebijakan insentif investasi, sektor manufaktur diharapkan akan tumbuh diatas 5 persen tahun depan meskipun ada ancaman deindustrialisasi.

Selain pertumbuhan di sektor manufaktur, sektor komunikasi juga  akan mengalami pertumbuhan 12.5 persen dan sektor konstruksi juga akan mengalami pertumbuhan 8.5 persen.


Dengan pertumbuhan ekonomi yang positif di hampir seluruh sektor industri merupakan momentum yang tepat bagi para pelaku bisnis untuk berinovasi dan melakukan ekspansi bisnis

Thursday, October 28, 2010

Market Size Notebook Indonesia Terus Membesar


Pasar pengguna komputer jinjing atau notebook di Indonesia terus bertambah. Menurut hasil riset terbaru International Data Corporation (IDC), penjualan notebook kuartal II-2010 di Indonesia mencapai 1,1 juta unit, naik 40 persen dari kuartal II-2009. Total penjualan notebook pada kuartal I-2010 mencapai total 2,18 juta unit. Naik 32,46 persen dibanding kuartal I-2009.
Dari data tersebut, penjualan notebook terbanyak untuk segmen low end, kisaran harga 400 dollar AS, yaitu sebanyak 45 persen dari total penjualan. Notebook harga 400-500 dollar AS menguasai 30 persen pasar, dan notebook seharga di atas 700 dollar AS per unit menguasai sisanya.

IDC memprediksi pasar notebook Indonesia akan mencapai 6 juta unit tahun 2011. Sampai tahun 2015, IDC juga memprediksi pasar notebook di Indonesia akan menjadi yang terbesar se Asia Tenggara.
Toshiba, produsen notebook asal Jepang, Toshiba, terus memperkuat penetrasi pasarnya di Indonesia. Terutama di kota-kota besar di Indonesia di luar Jakarta seperti Medan, Makassar, dan Surabaya.
Caranya, produsen komputer jinjing itu menambah jumlah distributor utamanya menjadi dua. "Indonesia adalah negeri yang sangat luas, maka kami membutuhkan partner yang memiliki jaringan yang kuat di daerah," terang Masanabu Honda, Asisten General Manager Toshiba Company System Singapura, akhir pekan lalu.
la memprediksi, penjualan notebook di Indonesia pada periode Oktober-Desember 2010 akan mencapai 1,4 juta unit. Sayang, ia tak merinci target penjualan Toshiba di Indonesia tahun depan.

Tuesday, July 6, 2010

Survei Nielsen : "Social Media" Jadi Referensi Konsumen

Rekomendasi terbaru yang dikeluarkan Nielsen ini mungkin pantas dipertimbangkan pemilik produk untuk menggelar promosi. Menurut lembaga survei tersebut, social media seperti Facebook, Twitter, dan blog kini telah menjadi sumber referensi utama konsumen untuk memilih produk yang akan dibeli.

"Social media punya pengaruh yang semakin kuat untuk menentukan pilihan untuk berbelanja," ujar Charles Buchwalter, chairman dan chief executive Nielsen Online Jepang, seperti dilansir AFP, Rabu (30/6/2010). Review dari media online menjadi referensi yang dipercaya setelah rekomendasi dari teman dan keluarga.
Nilesen mencatat rata-rata tiga dari empat orang yang mengakses internet pernah mengunjungi layanan seperti jejaring sosial, mikrobloging, dan blog serta layanan lainnya. Mereka menghabiskan waktu di layanan social media rata-rata enam jam sebulan. Tiga situs paling populer yang paling banyak dikunjungi adalah Facebook, Wikipedia, dan YouTube.

Khususnya di kawasan Asia Pasifik tempat riset dilakukan, rekomendasi dari media-media online punya pengaruh paling besar pada keputusan orang membeli produk elektronik, kosmetik, mobil, dan makanan. "Social media sudah di depan mata dan harus diperhatiakn secara serius oleh komunitas bisnis yang lebih luas," kata Megan Clarken, managing director bisnis online Nielsen Asia Pasifik.

Friday, March 5, 2010

Microsoft menjual lebih dari 90 juta Copy Windows 7

Dalam waktu enam bulan Microsoft telah menjual lebih dari 90 juta copy Windows 7, angka penjualan ini disampaikan oleh Pejabat Microsoft. Windows 7 mulai dipasarkan di bulan Juli 2009.

Windows 7 merupakan sistem operasi teranyar Microsoft yang diposisikan sebagai suksesor Vista. Windows 7 juga dikenal dengan nama kode Vienna, dari sebelumnya yang bernama kode Blackcomb.

Peter Klein, Microsoft's chief financial officer, menyajikan data penjualan produk ini pada saat presentasi ke Morgan Stanley di Konferensi Media dan Telekomunikasi pada tanggal 2 Maret.



Pencapaian angka penjualan produk ini masih kurang baik di segmen Pelaku Bisnis (perusahaan) atau biasa kita sebut B2B Market. Masih terdapat keraguan dari segmen ini terhadap kelebihan Windows 7, produk ini belum teruji dalam banyak hal seperti produk sebelumnya. Di segment ini masih banyak ruang yang dapat dimaksimalkan.

Memastikan Windows 7 adalah produk handal dan teruji dan dapat mensupport kegiatan bisnis apapun menjadi PR bagi Miscrosoft. Memberikan kemudahan bagi user dalam mengupdates produk ini akan sangat membantu. Microsoft harus cepat melakukan perbaikan-perbaikan.

‘Pertempuran’ di pasar sistem operasi antara keluarga Unix, DOS, dan Windows seakan tak pernah ada habisnya. Persaingan ini meruncing di tiga sistem operasi utama, yaitu Apple dengan MacOS X, Microsoft dengan Windows, serta komunitas opensource dengan Linux. Semua berkeinginan untuk menjadi yang terbaik dan menjadi pilihan utama dari Konsumen.

Thursday, May 28, 2009

Nokia Messaging dan Ovi Mail dari Nokia




Nokia menawarkan sebuah layanan baru di produknya, perusahaan asal Finlandia tersebut meluncurkan dua layanan yang bisa jadi senjata baru, yakni Nokia Messaging dan Ovi Mail dalam menghadapi pesaingnya yag telah terlebih dahulu memasuki pasar dengan teknologi dan layanan baru seperti Blackberry yang menawarkan Push Mail.

Nokia baru saja luncurkan dua layanan yang bisa jadi senjata baru, yakni Nokia Messaging dan Ovi Mail, seperti apa dan kegunaan apa yang bisa lakukan dengan dua layanan baru dari Nokia yang dikenal penguasa pasar handphone dunia ini.

"Sekarang, hanya dengan satu alat kita bisa mengakses semua email serta instant massaging (IM). Nokia Messaging mudah diinstall, karena hanya memerlukan alamat email serta password untuk mengaktifkan email atau IM,"

Satu hal yang menjadi kelebihan, setiap email yang masuk dari berbagai provider (Yahoo Mail, Windows Live Hotmail, Gmail, AOL Mail) langsung masuk ke ponsel. Artinya, pengguna fasilitas Nokia Messaging sudah menghemat beberapa langkah untuk melihat email baru, karena tak perlu mengklik mailbox dan mencari email tersebut.

Ovi Mail merupakan layanan email dari Nokia. Tak seperti account beberapa email yang ada sekarang di mana saat membuatnya harus lewat PC, account Ovi Mail bisa langsung dibuat melalui ponsel dengan mudah dan yang lebih menggembirakan lagi, layanan ini bersifat gratis.

Kesimpulan saya :

Jadi sekarang akses ke account email dan IM dari berbagai penyedia seperti Yahoo, Windows Live, Google, dan AOL, sangat mudah dan cepat. Selain itu juga ada Mail on Ovi yang memungkinkan pengguna PC untuk menciptakan dan mengakses email account Ovi serta layanan Ovi lain hanya dengan satu account.

Sangat bagus dan mudah untuk digunakan oleh siapa saja, walau sedikit terlambat ... Nokia jeli melihat pasar, ada ceruk pasar yang belum dapat digarap pesaingnya dengan baik dan pasar itu sangat dikuasai oleh Nokia. Kita sering dengar istilah "Nokia adalah handphone sejuta umat". Pasar tersebut yang perkembangannya saat ini sangat cepat, demam Facebook juga sangat mempengaruhi gerakan pasar ini.


Tuesday, May 26, 2009

Pengaruh Era Informasi Terhadap Pemasaran



Ilmu dan seni pemasaran bukanlah sesuatu yang statis. Ini berarti, dinamis. Maksudnya, apa yan ada atau terjadi saat ini pada pasar sasaran mewarnai serta menuntut adaftasi pemasaran demi eksistensi bisnis. Dulu bisnis didasari revolusi indistri yang berfokus pada skala produksi dengan sasaran efisiensi melalui standarisasi dan penciptaan struktural berkhierarkhi. Sedangkan dalam keberadaannya saat ini informasi mewabah luas, cepat, dan mudah diperoleh yang mampu memberikan pilihan terbaik pada konsumen.


Informasi dari sudut pandang konsumen, menimbulkan serangkaian kepemilikan seperti kecakapan membeli, variasi alternatif produk, kemudahan berinteraksi, dan mampu membuat perbandingan. Pada sisi bisnis juga timbul kemampuan operasionalisasi saluran informasi, database pelanggan, mudah dan cepat berlangsungnya komunikasi internal, kustomisasi penawaran. Kepemilikan dan kemampuan tersebut, ada pada era informasi yang mendorong adaftasi pemasaran.

Melihat dari sudut pandang perekonomian terlebih dahulu. Perekonomian era informasi, dilandasi digitalisasi dan konektifitas, disintermediasi dan reintermediasi, kustomisasi dan kustomerisasi, serta konvergensi industri. Kemudian turun pada hadirnya seperangkat kepercayaan dan praktik bisnis yang berkarakteristik: berbasis segmen pelanggan, fokus nilai hidup pelanggan, memperhatikan stakeholders, setiap orang adalah marketer, membangun merek melalui kinerja yang berkualitas. Lantas adaftasi pemasaran terjadi. Pemasaran bergerak memasuki e-marketing dan e-purchasing.

E-marketing merupakan pengelolaan pemasaran berbasis media elektronik khususnya internet sedangkan E-purchasing mengarah pada trindakan pembelian yang dilakukan oleh konsumen maupun pelanggan yang juga secara online.

E-marketing dan E-purchasing tidak lain hadir sebagai dampak dari kondisi era informasi. Secara lebih jauh lagi dampaknya pemasaran difokuskan kepada individual konsumen yang menuntut pembentukan basis data pelanggan dan melakukan penggalian data untuk melacak trend, segmen serta kebutuhan dan keinginan individual. Sure, individual marketing is not easy.

Wednesday, April 15, 2009

Marketing in Crisis (2) by Rhenald Khasali


Ini merupakan lanjutan dari Marketing in Crisis (1) ada baiknya anda membaca terlebih dahulu Marketing in Crisis (1).

BANYAK berita dan kejadian ekonomi yang membuat kita harus waspada. Di satu pihak nasihatnasihat perekonomian itu datang dari para pakar ekonomi makro dan analis - analis keuangan, di lain pihak dunia usaha berjalan pada mata rantai bisnis (ekonomi mikro manajemen).


Keduanya memiliki unit analisis, cara bekerja, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, ada halhal yang dirasakan sama, namun dalam banyak hal keduanya menafsirkan masa depan dengan kacamata berbeda. Demikian juga dalam mengambil hikmah dari krisis keuangan global yang menghantui kita. Makro untuk Negara Perekonomian makro pada dasarnya adalah perekonomian negara.

Para pakar ekonomi berupaya keras menghitung dan menyajikan data tentang perekonomian agar pemerintah waspada terhadap krisis. Sebab,kalau uang dan kebijakan negara salah urus efeknya bisa merembet ke dunia usaha dalam bentuk penutupan perusahaan,pengangguran, penurunan daya beli, dan hilangnya gairah investasi, atau malah pelarian modal dan tenaga ahli ke luar negeri. Meski analisis itu dapat berakibat pada perusahaan-perusahaan, namun nasihat mereka pertama- pertama ditujukan kepada pemerintah

Analisis dan modelmodel ekonomi makro dan keuangan menggunakan landasan berpikir neoklasikal yang didasari asumsi-asumsi tertentu, simplifikasi, agregasi, dan tentu saja berbasiskan angka.Teori ekonomi sebenarnya sangat erat dengan matematika, sehingga tak mengherankan kalau ilmu ini sering disebut sebagai ratunya ilmu-ilmu sosial (the queen of social science). Supaya model-modelnya dapat dibangun, diasumsikan manusia mampu bertindak rasional. Dengan keahlian itu,seseorang penyandang gelar sarjana ekonomi dalam bidang makro mampu meneropongperekonomianbangsanya dan memberi saran-saran koreksi.

Apalagi menyangkut soal anggaran, kebijakan moneter dan fiskal, jelas diperlukan disiplin dari penyelenggaraan negara. Tanpa kehadiran ekonom, negara bisa bergerak tanpa arah,tidak ada disiplin; dan perekonomiannya kacau-balau. Demikian pulalah dalam menghadapi krisis perekonomian atau keuangan global.Selalu ada impact antara kebijakan yang diambil negara terhadap nilai mata uang, kenaikan harga-harga, serta pengangguran. Kendati demikian, fokus analisis dan nasihat-nasihatnya terutamadiarahkanke pemerintah.

Perilaku Pasar dan Perusahaan Pasar dan perusahaan lain lagi perilakunya. Kadang mereka berpikir dan bertindak rasional, kadang kurang rasional, bahkan mengikuti emosi dan intuisi mereka. Dalam banyak hal,perusahaan harus memahami kondisi perekonomian makro negaranya.Namun dalam hal lain mereka harus menguasai juga perilaku-perilaku nonrasional konsumen dan eksekutif-eksekutifnya.


Meski kurang enak disebut irrational, demikianlah para rationalist atau kaum penganut formal logic menyebutnya. Hanya sekali saja seorang ilmuwan, yaitu Herbert Srinon, yang membela mereka, yaitu ”bukan tidak rasional”, melainkan Bounded rationality, yaitu adanya tekanan-tekanan waktu dan kurangnya informasi yang dihadapi para eksekutif dalam mengambil keputusan, sehingga seakan-akan tidak rasional (kalau diukur oleh mereka yang tidak punya keterbatasan-keterbatasan itu).

Demikian pula unit yang ditangani perusahaan, bukanlah negara, bukan uang milik banyak orang, melainkan uang segelintir orang yang tidak diawasi parlemen dan politik. Mereka adalah pengambil risiko (bukan birokrat),yang bergerak responsif, lebih bebas, dan mandiri. Selain itu kalau orang-orang makro membaca data agregatif (total, menyeluruh), maka dunia usaha melihat dalam kacamata yang lebih terbatas. Yaitu pada kacamata segmen pasar yang dikuasainya, dalam jangkauan geografis tertentu.

Dengan demikian, dari kacamata makro tidak pernah tersentuh perbincangan segmentasi atau merek,cukup sampai kategori saja. Misalnya pada 2009 diramalkan pasar penjualan automotif akan jatuh dari 600.000 unit menjadi 400.000 unit. Itulah proyeksi makro. Bagaimana mikronya? Beberapa merek mobil tertentu, seperti mobil-mobil mewah (Mercedes, Volvo,BMW,Audi) mungkin akan langsung drop.

Namun mungkin tidak bagi Toyota,Daihatsu,atau merek-merek menengah lainnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena produk-produk itu diperdagangkan oleh para profesional dan entrepreneur yang belum tentu rela membiarkan penjualannya turun. Mereka bisa dengan cepat bermanuver,mengubah struktur biaya (down costing),menciptakan merek-merek dan varianvarian baru yang lebih murah, menyajikan cara pembayaran insentif pada tenaga penjual dan seterusnya, menyajikan cara pembayaran baru, menggerakkan stimulus- stimulus tertentu, mencari pasar-pasar baru, memberi insentif pada tenaga penjual dan seterusnya.

Sementara itu, merek-merek kelas atas sangat sulit bermanuver karena terikat dengan ketentuan prinsipalnya di luar negeri. Kenyataan inilah yang membuat pusing para ekonom, mengapa mikroekonomi mulai kurang sejalan dengan kondisi makroekonomi yang dibaca dengan penuh kehati-hatian? Benarkah manusia Indonesia mulai kehilangan daya nalarnya, menjadi tidak rasional dalam berbelanja ? Bahkan banyak sekali pertanyaan seperti berikut ini: Mau diapakan juga, kalau daya beli tidak ada, tetap saja tidak ada yang membeli.

Untungnya orang-orang bisnis yang optimistis tetap saja bisa menguras kocek cadangan konsumennya. Seakan-akan mereka mau bilang, ”Ini lho, yang penting itu keinginan mereka (untuk membeli), bukan daya belinya.” Menggairahkan Keinginan Berbelanja Kepusingan membawa ketidakselarasan ekonomi makromikro di sini tentu memerlukan studi lebih mendalam untuk mengetahuinya lebih jauh.

Sebuah tulisan yang diturunkan Direktur The Nielsen Indonesia Yongky Susilo di harian ini (30/3) menunjukkan gejala itu. Bagaimana mungkin, studi pada 2008, saat harga energi dan bahan makanan melambung naik, menunjukkan hanya 13% konsumen yang percaya bahwa perekonomian Indonesia akan membaik, namun seluruh penjualan ritel Indonesia sepanjang 2008 melonjak fantastis.Yongky mencatat, kendati trip belanja menurun, hasil penjualan ritel naik 21%, sehingga Indonesia menempati peringkat ke-2 di Asia-Fasifik.

Semua produk, dari kopi, minuman kesehatan, busana, sampai mobil dan motor,naik signifikan. Ketika para ekonom makro menyajikan data-data yang menakutkan, konsumen kita justru berbelanja lebih banyak.Berbekal kenyataan di tahun 2008, sejumlah riset pun menyajikan fakta baru: Tahun ini indeks keyakinan konsumen masih naik terus. Artinya, konsumen masih melakukan spending. Tetapi menarik juga disimak perbincangan di kalangan produsen-produsen tertentu.Ada tendensi sejumlah produsen mulai kecut.

Kekecutan mereka juga dapat dilihat dari indeks tren bisnis yang bulan Februari lalu dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).Di situ disebutkan, kendati indeks keyakinan konsumen merangkak naik, indeks tren bisnis atau semacam indeks keyakinan produsen, malah menunjukkan penurunan. Pikiran-pikiran mereka sebenarnya sama dengan pikiran sejumlah eksekutif yang terlihat loyo beberapa bulan ini.Mereka selalu mengatakan ”suasana sangat sulit karena sedang terjadi krisis.

”Mereka inilah yang mulai mengurangi stok barang,menunda pembayaran dan mengurangi kiriman barang ke jaringan distribusi.Penjualan produk mereka benar-benar drop. Di lain pihak,pada kategori produk yang sama, belakangan ini juga sering bertemu dengan orangorang yang bersahabat dengan krisis. Mereka berulang kali mengatakan pada saya, ”Crisis is a friend of mine.”Maka,kendati pasar itu benar-benar sulit, mereka terlihat tetap bersemangat, mencari cara-cara baru dalam pemasaran dan dan produksi,serta kreatif menembus kesulitan. Ada semacam ”self therapy” yang melekat pada orang-orang yang kedua tadi.

Itulah sebabnya dibutuhkan sales therapy, bahkan marketing therapy untuk memperbaiki dan membangun kembali pasukan pemasaran dan para eksekutif barang-barang konsumsi Indonesia yang mulai loyo mendengar kata krisis yang berulangulang disampaikan para pemimpin yang meng-hipnosemereka.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM–UI


Saturday, August 30, 2008

Successfully Marketing Online

Following are 20 keys to successfully marketing your product, service, and business online.

1. Have a professional, easy-to-navigate, quick-loading design. Hire a professional design firm or at least use a good site template.
2. Have lots of quality related content.
3. Build lots of links to your Web site.
4. Build credibility and rapport.
5. E-mail newsletter with quality content and send it out at least once per month.

6. If you are selling a product, have an affiliate program.
7. Once you have an affiliate program, don't forget to promote it.
8. Do whatever you can do profitably to attract large affiliates and form key strategic alliances.
9. Position yourself advantageously in the search engines.
10. Use cost-per-click (CPC) engines, but make sure you know the lifetime value (LTV) of your customers and that you do return-on-investment (ROI) checks often.
11. Supplement your affiliate advertising with both online and traditional advertising, but track results and always do ROI checks.
12. Advertise using CPM channels to build brand recognition, but put profitability before brand recognition.
13. Offer yourself as a resource to the media as an expert in your niche.
14. Hire a great publicity firm or bring an experienced publicist in-house.
15. Use autoresponders to maintain constant contact with prospective customers.
16. Remember that business is all about relationships and communication. Always work to build more relationships, and once they are built, make sure you are in continuous contact with your prospects, customers, strategic alliances, suppliers, investors, and the media.
17. Encourage word of mouth among your customers.
18. Have superior customer service and have staff to answer all incoming e-mails within 24 hours.
19. Send out periodic e-mail follow-ups making sure your customers are happy and asking them for feedback on your product and the service your company has provided.
20. Blog frequently with quality content.

from the book Zero to One Million by Ryan P. Allis

Saturday, August 16, 2008

THE POWER OF NEW


The Power of "New"


Marketers know there are potent words in advertising, like “Free” and “New.”

Neuroscientists have now determined that the appeal of “new” is hard-wired into our brains. Novelty activates our brain’s reward center, which may have been an evolutionary advantage to our ancestors as they encountered new food sources or other elements of survival.

Today, we are no longer hunters and gatherers, but the novelty-seeking circuitry is still active and makes us find new products (and even repackaged old products) attractive.
“I might have my own favourite choice of chocolate bar, but if I see a different bar repackaged, advertising its ‘new, improved flavour’, my search for novel experiences may encourage me to move away from my usual choice,” says Dr Bianca Wittmann at the Wellcome Trust Centre for Neuroimaging at University College London. [From the Telegraph - ‘Sense of adventure’ makes us marketing targets by Roger Highfield.]

Wittman and her fellow researchers had subjects choose cards associated with small rewards while scanning their brains using o fMRI. Over time, the subjects were shown cards with which they had become familiar as well as new ones. The researchers found that making novel choices lit up the brain’s ventral striatum, an evolutionarily primitive part of the brain and an area associated with rewarding behavior.

Wittman speculates that dopamine, a neurotransmitter that is part of the brain’s reward process, is released when a novel choice is made.

The neuromarketing message, then, seems simple - making a product “new” in some way may give it a boost when compared with competing products. At the same time, marketers should be mindful of long-term brand attachments. (Remember New Coke?) For example, changing a brand’s logo might provide a short-term boost, but might also weaken brand familiarity and attachment.

As I described in Brain Branding: The Power of Strong Brands, brain scans also show that familiar brands cause higher levels of brain activation than unfamiliar ones.

So, marketers need to steer a careful course - emphasize the novelty of their offering while still using the power of long-term brand affinity.

Customer Centric Thoughts from the World’s Sharpest Minds in Marketing, Strategy, Innovation and Design

Friday, February 22, 2008

VALUE MARKETING


Drucker berujar bahwa fungsi bisnis telah bergeser menjadi penciptaan value dan kesejahteraan. Istilah value digunakan karena kegunaan produk dan layanan yang melekat padanya meningkat. Customer value merupakan preferensi yang dirasakan pelanggan terhadap ciri produk, kinerja, dan apakah memenuhi apa yang dinginkan.


Dewasa ini telah berkembang konsep-konsep macam Relationship Marketing, Customer Retention, Customer Loyalty, Database Marketing, CRM (Customer Relationship Management), Frequency Marketing, Permission Marketing, dan One-to-One Marketing yang semuanya menggunakan pendekatan berbasis customer value.

Perbedaannya terletak pada bagaimana memposisikan diri terhadap pelanggan, meskipun tujuan akhirnya sama: mempertahankan pelanggan dan meningkatkan value. Perlu pendekatan strategis untuk menghubungkan proses pemasaran dengan value dari shareholder, pelanggan, dan karyawan yang tertuang dalam Value Chain Marketing.


Dalam implementasinya dilakukan Value Chain Analysis untuk membantu perusahaan mengidentifikasi sumber dan kapabilitas potensialnya yang kompetitif. Ibarat lomba lari maka start-nya adalah customer needs, dan garis finish-nya adalah customer delight.tion Setiap fungsi bisnis dalam value chain diperlakukan sebagai aset penting yang berkontribusi pada value. Pendek kata, value chain marketing memadukan dan mengelola semua fungsi bisnis guna memenuhi kebutuhan pelanggan. Eksplorasi nilai berikutnya adalah customer value sebagai media antara untuk menciptakan shareholder value.


Bagi perusahaan, pelanggan berkontribusi dalam bentuk uang, dorongan dan kompetisi, feedback, serta spesifikasi desain. Hubungan dengan pelanggan tidak bisa dibangun dalam semalam. Untuk merubah orientasi dari product-focused menjadi customer-focused perusahaan harus memenuhi tiga tahap berikut: mengenal pelanggan; menyampaikan value yang signifikan dan kompetitif; serta menciptakan budaya yang customer-centric. Produk dan layanan yang prima saja belum menjadi jaminan kesuksesan. Agar dapat memberikan keunggulan kompetitif, tidaklah cukup dengan value secara fungsional tapi juga secara emosional.


Lantas, apa yang membuat pelanggan puas? Untuk bisa menjawabnya terlebih dahulu dikaji apa yang diharapkan pelanggan terhadap perusahaan, yaitu tanggung jawab, kualitas, value dan inovasi dari produk dan layanan, kualitas keseluruhan layanan/dukungan, dan penyajian yang tepat waktu. Untuk mempertahankan dan meningkatkan customer value kuncinya terletak pada komunikasi. Promosi pemasaran penting untuk mempertahankan pelanggan (customer retention) dan mendongkrak penjualan. Di sisi yang lain, pelanggan menentukan pilihan berdasarkan atas persepsi mereka. Dengan demikian, semakin kuat mengenal pelanggan akan jauh lebih efektif dalam mempengaruhi persepsi mereka. Siapakah yang menjadikan semua value itu sampai kepada pelanggan? Penopang utama tercapainya value delivery yang prima adalah manusia yang ada dalam organisasi itu sendiri. Sehingga tak pelak lagi employee value menjadi bagian yang krusial untuk dapat tersajikannya nilai bagi pelanggan, yang pada akhirnya akan berujung juga pada terciptanya nilai bagi pemegang saham.


Prinsip utama dalam value delivery adalah memberi nilai tambah pada tiap tahap dalam aliran nilai sesuai dengan proposisi nilai yang dijanjikan serta mengumpulkan informasi dan data untuk perbaikan kontinyu (continuous improvement) terhadap proses. Harapan terhadap value delivery ini secara finansial tercermin dalam laba, pertumbuhan laba, rasio keuangan, cash flow, dan kemampuan meraup modal. Ke depan akan tercermin dalam posisi pasar, potensi pertumbuhan, perbaikan kontinyu, serta knowledge management. Sedangkan harapan terhadap stakeholder dapat diwakili oleh karyawan dan pelanggan.


Jadi value marketing bertumpu pada tiga tahapan utama yang harus dilalui, yaitu value exploration, value creation, dan value delivery dalam segitiga value berikut: customer value, employee value, dan shareholder value.


Mari menciptakan Value dalam setiap aspek kegiatan bisnis kita ...


Salam





Sumber : Himawan Wijanarko*

GM Strategic Jakarta Consulting

Tuesday, February 19, 2008

INOVASI MENCIPTAKAN PASAR BARU


Perusahaan senantiasa mencari ide-ide baru dalam tujuan peningkatan revenue dan profit, berbagai proses metode/model dilakukan dalam pencarian tersebut agar setiap produk dan jasa dari perusahaan tersebut dapat diterima dan sukses di pasar. Inovasi tiada henti dan kreatif di dalam seluruh aktifitas perusahaan suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi.

Berbagai produk dan layanan baru dibuat, dikemas dan diluncurkan kepasar agar memiliki keunggulan (advantage) dan Nilai (Value) dibandingkan dengan pesaingnya. Kita melihat bagaimana sebuah produk dan pelayanan dalam suatu pasar tertentu/tetap dapat membentuk kategori atau pasar baru. Produk dan pelayanan diubah sedemikian rupa agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan baru atau orang/situasi baru yang tidak dipertimbangkan sebelumnya. Proses penciptaan ini merupakan Inovasi.

Perlu di ingat bahwa "Keunggulan dari proses ini adalah mampu menciptakan atau membentuk pasar baru" bukan penguasaan atas segment atas pasar yang sudah ada.
Beberapa contoh yang dapat kita lihat adalah :

Mini Market di POM Bensin
Pompa bensin secara umum dikenal sebagai tempat untuk membeli bahan bakar, saat ini bagaimana benyak Pompa Bensin yang juga dilengkapi dengan fasilitas Mini Market yang menjual aneka makanan dan minuman, ATM dan tempat peristirahatan singkat yang nyaman bagi penggunanya.
Proses yang terjadi adalah bagaimana perusahaan yang mengelola Pompa Bensin melihat adanya peluang dan dapat dimanfaatkan dengan baik, inovasi ini menghasilkan keuntungan.

Perubahan pola kehidupan,perilaku dan tuntutan dari konsumen dapat dibaca dan dikemas dalam satu bentuk bisnis yang memberikan manfaat bagi perusahaan. Waktu yang semakin terbatas (sempit), Jarak atau waktu tempuh yang semakin panjang dan lama dari konsumen setiap harinya dari tempat kerja dan rumah tinggal (faktor jarak dan kepadatan lalu lintas), Suami dan Istri bekerja, tuntutan akan kenyamanan, kepastian dan kecepatan menjadi penting dan sangat berharga bagi konsumen. Konsumen dapat membeli berbagai kebutuhannya di Mini Market di area Pompa Bensin.

Area Peristirahatan di ruas toll yang nyaman, Pompa Bensin, Restoran dan Mini Market, ATM, Factory Outlet.
Pengelola jalan tol mampu menciptakan pasar baru dari pasar yang sudah ada, dengan menyediakan area dan bangunan untuk disewakan memberikan margin keuntungan bagi perusahaan. Saya yakin anda pernah menikmatinya dan melakukan aktifitas di area ini.

Starbuck dan Bizz Net
Pada awalnya tempat ini adalah membeli secangkir kopi, sandwich dan cake juga menjadi tempat yang nyaman untuk Negoisasi sampai Deal Business, menjamu relasi, teman atau sekedar menunggu kemacetan berkurang di sore hari. Menjual Voucher Internet dengan kecepatan tinggi berbasis waktu ini memberikan margin keuntungan dari Starbuck. Pelayanan ini merupakan jawaban atas kebutuhan dan keinginan dari pelanggannya. Meminum kopi dalam suasana yang nyaman dan tetap dapat bekerja dengan bantuan koneksi internet.

Contoh lain yang mampu menciptakan pasar baru dari pasar yang sudah ada.


  1. Astra Wolrd dari Astra International - peruntukannya untuk memberikan nilai tambah dari pelayanan Astra Industri Automotive. Sangat besar kesempatan yang dipunyai untuk menjadi sebuah bisnis jasa yang sangat menguntungkan yang tidak harus berbenturan dengan bisnis inti dari devisi otomotif astra. Sebagai ide saya saja Astra World dapat membuat Astra World Zone di Mall yang hanya dapat dinikmati oleh anggota Astra World, berbagai aktifitas penjualan dan promosi dapat dilakukan.

  2. Mingguan Bola dan Kontan dari Kompas - pada awalnya hanya merupakan suplemen gratis kepada para pembaca Harian Kompas. Saat ini menjadi Mingguan yang ber-oplah sangat besar.

  3. Radio menjadi Organizer berbagai kegiatan seminar dan pertunjukan musik dan seni.

  4. Alfa Mart dengan BCA.

  5. Klub Sepakbola dengan Merchantnya yang menjual beraneka ragam barang dengan logo klubnya bahkan sudah ada yang mempunyai stasiun TV sendiri.

  6. Gramedia dengan konsep baru "tidak hanya menjadi tempat membeli buku"

Banyak hal yang dapat kita lakukan dengan berpikir kreatif dan Imajinatif untuk menghasilkan Inovasi dalam menciptakan pasar baru dari pasar yang sudah ada. Penciptaan pasar baru ini merupakan cara yang paling efektif dan efisien agar mampu bersaing dalam pasar yang semakin ketat persaingannya.


Salam ...


Bahan bacaan : Lateral Marketing by Philip Kotler & Trias de Bes


dppangaribuan@gmail.com


http://igoman.blogspot.com/





CUSTOMER CENTERED MARKETING


Kita mengenal berbagai konsep pemasaran dari mulai yang sederhana hingga yang sangat kompleks (4P, Marketing Mix) dan strategi-strategi baru yang penuh inovatif untuk dapat menggaet customer lebih banyak dan unggul dibanding pesaingnya. Konsep pemasaran berubah dari pendekatan produk secara masal ke pendekatan secara pribadi (individu), bahasa sederhananya produk maupun jasa yang kita berikan harus sesuai dengan keinginan, harapan dan kebutuhan pelanggan.

Inilah salah satu pendekatan yang berbasiskan Customer, Customer Centered Marketing, pelanggan dijadikan subyek dengan mempelajari perilaku dan kebutuhannya, dan melakukan customization agar kebutuhannya dapat dipenuhi yang menimbulkan customer satisfaction.

Pada tahap selanjutnya, dapat dilakukan individualizing yaitu pemahaman konsumen bukan sekedar bagian dari sebuah kelompok, tetapi sebagai individu. Konsekuensinya pendekatan yang dipakai bukan lagi mass customization tetapi sudah one to one marketing.
Agar one-to-one marketing dapat diterapkan mesti didukung oleh Customer Relationship Management (CRM), yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan dalam menanggapi permintaan konsumen yang demikian cepat berubah.

Konsep CRM merupakan suatu proses untuk meramalkan tingkah laku pelanggan dalam rangka meningkatkan hubungan dengan pelanggan. Secara sederhana CRM adalah strategi memperoleh, mengkonsolidasi dan menganalisis data pelanggan dan kemudian dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan pelanggan. Sehingga memberikan suatu pandangan yang komprehensif terhadap pelanggan yang akan dimanfaatkan untuk mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan pelanggan. Data pelanggan dilacak dan dianalisa berkaitan dengan variabel ekonomi, demografi, gaya hidup, psikografi dan elemen-elemen interaktif pelanggan.

Melalui customer-interaction records yang rinci, pemasar dapat mendesain produk dan layanan yang lebih baik kepada pelanggan. Dalam tataran ini pelanggan bukan hanya memperoleh layanan yang dibutuhkan saja, tetapi memperoleh layanan yang melebihi harapannya (customer delight) bukan lagi sekedar customer satisfaction. Bentuk layanan yang disodorkan pemasar bukan hanya customer service, tetapi sudah meningkat menjadi customer care.
Automotive Astra International kita kenal dengan Astra World nya, Paket hemat ber 5 dari Indosat atau Hallo Keluarga di Telkomsel, Private Banking, Mobile dan SMS banking dalam Industri perbankan, Low cost carrier dalam industri penerbangan yang dipelopori oleh Air Asia dan Lion Air, Garuda dengan Garuda Frequent Flyer, Mie Sedap dari grup Wings dengan Mie Jumbonya, A Mild dan Dji Samsoe Premium dalam Industri Rokok.

Perubahan untuk melakukan perbaikan terasa sudah sangat kuno yang diperlukan adalah bagaimana kecepatan perusahaan mampu mendisain produk dan layanannya dengan inovasi-inovasi baru dan mampu cepat membaca perubahan dari perilaku dan kebutuhan konsumen. Yamaha mampu mengalahkan dominasi Honda di Roda 2 di Indonesia adalah sebagai buktinya, dengan mengeluarkan produk-produk yang selalu baru dalam penuh inovasi berhasil diterima pasar. Nama besar bukan jaminan dan sejarah dapat berubah dan perubahan itu sangat cepat, kadangkala kita baru tersadar setelah semua terjadi dan menjadi sangat terlambat.

Salam

david p pangaribuan
http://igoman.blogspot.com/

 

FREE HOT VIDEO 1 | HOT GIRL GALERRY 1

FREE HOT VIDEO 2 | HOT GIRL GALERRY 2

FREE HOT VIDEO 3 | HOT GIRL GALERRY 3

FREE HOT VIDEO 4 | HOT GIRL GALERRY 4

FREE HOT VIDEO 5 | HOT GIRL GALERRY 5

FREE HOT VIDEO 6 | HOT GIRL GALERRY 6

FREE HOT VIDEO 7 | HOT GIRL GALERRY 7

FREE HOT VIDEO 8 | HOT GIRL GALERRY 8

FREE HOT VIDEO 9 | HOT GIRL GALERRY 9

FREE HOT VIDEO 10|HOT GIRL GALERRY 10

FREE HOT VIDEO 11|HOT GIRL GALERRY 11